Dalam Sirah Ibnu Hisyam dikisahkan suatu waktu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sedang menuju  kediaman Sa’ad bin ‘Ubadah. Beliau melewati Abdullah bin ‘Ubay yang berkumpul bersama beberapa orang dari kaumnya. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam turun dari tunggangannya, ikut duduk sebentar dan bergabung dalam kelompok itu. Beliau pun membacakan alqur’an kepada mereka, mengajak dan mengingatkan untuk beribadah kepada Allah, memberi nasihat dengan ancaman dan kabar gembira. Setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam selesai maka Abdulllah bin Ubay berkata :

[Hai, sesungguhnya tidak ada yang lebih baik dari perkataanmu ini, kalau memang benar MAKA DUDUKLAH DI RUMAH MU, barang siapa yang datang untuk mendengarkan perkataan itu maka ceritakanlah padanya. Sedangkan orang yang tidak mendatangimu maka jangan ganggu ia, jangan mendatangi di majelisnya dengan sesuatu yang ia benci.]

Namun Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tidak membalas kritik pedas tersebut dan memaafkannya

Dari sedikit kisah tersebut kita dapat pelajari beberap hikmah  berikut :

1. Betapa dakwah telah menjadi jalan hidup nabi kita Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam, dan beliau begitu semangat dalam mengajak manusia kepada Allah ta’ala dalam setiap kesempatan.

2. Bagaimana Al Qur’an menjadi sarana dakwah Beliau Shallallahu’alaihi wasallam, dimana ini adalah perkataan yang paling tepat untuk digunakan dalam berdakwah dibandingkan dengan perkataan/ungkapan manapun Dalam banyak kesempatan dakwah yang beliau lakukan cukup dengan membacakan Al Qur’an kepada orang-orang quraisy.

3. Diantara metoda yang Beliau Shallallahu’alaihi wasallam lakukan dengan menggabungkan antara memberi ancaman (dengan adzab atau murka Allah ta’ala) dan juga kabar gembira bagi orang-orang yang taat kepada Allah ta’ala, yang biasa diistilahkan targhib (memotivasi) dan tarhib (mengancam).

4. Kesabaran Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menghadapi tantangan dakwah. Pada kutipan diatas berupa kritikan pedas yang kontan disampaikan setelah beliau menyampaikan dakwahnya. Namun dengan kesabarannya Beliau Shallallahu’alaihi wasallam mendiamkan dan memaafkan sikap Abdullah bin Ubay tersebut.

5. Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang membenci dakwah Al Haq dari orang-orang kufur ataupun orang munafik, sebagaimana yang diwakili oleh ungkapan Abdullah bin Ubay diatas, yaitu agar para penyeru-penyeru dakwah berhenti dari dakwahnya, atau sekalipun mereka tetap berdakwah maka mereka berusaha agar mereka  berdakwah hanya kepada kelompok yang terbatas. Para penyeru dakwah hendaknya menyadari dan hati-hati akan adanya ‘usaha’ untuk membuat dirinya berhenti atau diam dari kegiatan yang bertujuan untuk memperkuat dakwah Islam. Terlebih ketika ‘usaha’ tersebut pun telah berhasil membuat diri kita mengajak jiwa kita sendiri untuk berhenti, wallahul musta’an. (Abu Ahmad)

Sumber :
Al Hikmah Fii Da’wati Ilaallah karya Sa’id bin ‘Aly bin Wahf Al Qahthani [Disertasi Doktor]

Related posts:

  1. Agar Kita Menuai Generasi Mujahid
  2. You are never alone
  3. Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu…
  4. Prinsip Belajar Islam
  5. Keutamaan Puasa Enam Hari Syawal

This website uses IntenseDebate comments, but they are not currently loaded because either your browser doesn't support JavaScript, or they didn't load fast enough.

3 Responses to “Ketika kita diminta diam !”

Leave a Reply


Archives
Recent Comments
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes

Switch to our mobile site