<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Wahdah Islamiyah Bandung &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://wahdahbandung.org/category/artikel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wahdahbandung.org</link>
	<description>Ilmu Amal Dawah dan Tarbiyah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Jun 2010 04:05:25 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Wahai Pemuda, Jangan Layu Sebelum Berbuah!</title>
		<link>http://wahdahbandung.org/artikel/wahai-pemuda-jangan-layu-sebelum-berbuah.html</link>
		<comments>http://wahdahbandung.org/artikel/wahai-pemuda-jangan-layu-sebelum-berbuah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 02:20:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lembaga Muslimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahdahbandung.org/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Sering di usia produktif, dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar.
SEMUA manusia di dunia ini secara fisik tunduk kepada fenomena penciptaan-Nya. Ia akan meniti fase shobi (bayi), thifl (balita), murahiq (pemuda), kuhulah (dewasa), dan syaikh (tua). Makhluk-makhluk-Nya itu selalu bertasbih kepada Allah Swt dengan bahasanya sendiri. Tetapi, usia paling menentukan arah kehidupan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/you-are-never-alone.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: You are never alone'>You are never alone</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/alasan-di-balik-kegagalan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Alasan di balik Kegagalan'>Alasan di balik Kegagalan</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/cukuplah-kematian-sebagai-penasihat-bagimu.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;'>Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering di usia produktif, dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar.</p>
<p>SEMUA manusia di dunia ini secara fisik tunduk kepada fenomena penciptaan-Nya. Ia akan meniti fase shobi (bayi), thifl (balita), murahiq (pemuda), kuhulah (dewasa), dan syaikh (tua). Makhluk-makhluk-Nya itu selalu bertasbih kepada Allah Swt dengan bahasanya sendiri. Tetapi, usia paling menentukan arah kehidupan seseorang adalah fase murahaqa (puber) dan kuhulah (produktif) antara usia 15-35 tahun.<br />
<span id="more-238"></span><br />
Ada sebuah ungkapan ahli hikmah: “Siapa yang tumbuh, berkembang pada masa mudanya di atas, akhlak, orientasi (ittijah), kepribadian (syakhshiyyah), karakter, bakat (syakilah) khusus, maka rambutnya akan memutih (al masyiibu) dalam keadaan ia memiliki tradisi (daabu), akhlak seperti itu.”</p>
<p>Ahli sastra Arab dahulu pernah menjelaskan impian orang tua yang ingin kembali pada masa muda. Tetapi, itu suatu kemustahilan.</p>
<p>اَلاَ لَيْتَ الشَّباَب يَعْود يَوماً . سأُخْبِره بِماَ فَعَلَ الْمَشيْب</p>
<p>“Alangkah indahnya jika masa muda kembali lagi hari ini. Aku akan memberitahukan kepada khalayak (ramai) tentang apa yang dilakukan oleh orang yang sudah pikun dan beruban”.</p>
<p>Marilah kita hitung usia produktif dalam logika kehidupan manusia.</p>
<p>Umumnya umat Rasulullah Saw berusia antara 60-70 tahun (HR. Ahmad). Seumpama kita ditakdirkan berumur 63 tahun seperti uswah, qudwah (panutan) kita, 13 tahun pertama tentu tidak masuk perhitungan, berarti tidak bisa kita nilai. Kita belum baligh. Jadi, usia kita yang bisa dihitung 47 tahun.</p>
<p>Jika dalam sehari tidur belasan jam. Yang tersisa setiap hari 2/3. Tinggallah seputar 16 jam. Dalam aktivitas tidur tersebut tidak ada catatan amal. Untuk ukuran ini saja, dari 47 tahun, yang tertinggal 2/3-nya.</p>
<p>Lantas, sebagian besar ke mana? Orang itu produktif pada usia puber atau pada usia tua? Pertanyaan itu perlu kita jawab secara serius. Supaya aktivitas kita bisa dihisab oleh Allah Swt.</p>
<p>Semakin sering kita berhasil menghadapi godaan pada usia muda, seperti itulah ending kita pada masa tua (syaikhukhah). Sebaliknya, semakin sering kita kalah dalam mengantisipasi ujian, seperti itulah akhir kehidupan kita. Pertarungan yang paling berat dan keras adalah pada usia muda. Kalau diibaratkan seperti matahari, maka usia muda adalah ketika sinar matahari berada persis di tengah-tengah kita. Betapa teriknya pada siang bolong itu.</p>
<p>Itulah sebabnya Allah Swt memberikan penghargaan kepada pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Allah Swt (syaabun nasya-a fi ‘ibadatillah). Bahkan Allah Swt memberikan perlindungan di padang Mahsyar, ketika tiada naungan kecuali naungan-Nya. Karena pada usia produktif tersebut dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar. Maka, mengelola masa muda agar tunduk kepada karakter keagamaan merupakan perjuangan yang berliku, licin, dan mendaki. Hanya pemuda yang mendapat rahmat dari-Nya yang berhasil melewati godaan.</p>
<p>أَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِيْ أَخِرَهُ وَ خَيْرَ عَمَلِيْ خَوَاتِيْمَهُ وَ خَيْرَ أَيَّامِيْ يَوْمَ أَلْقاَكَ فِيْهِ</p>
<p>“Ya Allah, jadikanlah usiaku yang paling baik adalah pada penghujungnya, dan amalku yang terbaik adalah pungkasannya, dan hari-hariku yang terbaik adalah hari-hari saya bertemu dengan-MU.” [al Hadits].</p>
<p>Secara sunnatullah keberhasilan masa tua kita ditentukan oleh perjuangan yang tak kenal menyerah di masa muda. Keberhasilan mustahil diperoleh dengan gratis (majjanan), tanpa melewati proses ujian. Ibarat anak sekolah, untuk naik kelas harus mengikuti ujian. Jika kita kurang terampil mengelola masa muda dengan menggali potensi thalabul ‘ilmi (ijtihad), taqarrub ilallah (mujahadah), jihad fii sabilillah (jihad), secara maksimal kelak akan kita pertanggungjawabkan di Mahkamah Ilahi (‘an syabaabihi fiimaa ablaahu).</p>
<p>Ali bin Abi Thalib mengatakan:</p>
<p>مَنْ ساَءَ خُلُقُهُ عَذَّبَ نَفْسَهُ</p>
<p>“Barangsiapa jelek akhlaknya (ketika pemuda), ia akan tersiksa ketika tua.”</p>
<p>Mengikuti Siklus Ibadah</p>
<p>Mengapa kita perlu shalat lima waktu sehari semalam. Kita ibarat membuat kolam renang di depan rumah, setiap kali azan berkumandang kita segera membersihkan lumpur yang menempel dalam diri kita. Sehingga tidak tersisa sisi gelap dalam pikiran dan hati kita, demikianlah sabda Rasulullah Saw.</p>
<p>demikian sabda Nabi.</p>
<p>Allah Swt membuat perencanaan ibadah, agar kita selalu terjaga. Ibadah yaumiyyah, harian (shalat lima waktu), usbuiyyah, mingguan (shalat Jum’at, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari dalam sebulan), syahriyyah, bulanan (puasa Ramadan), sanawiyyah, tahunan (shalat idul fithr dan idul qurban), marrotan fil umr, sekali seumur hidup (ibadah haji ke Baitullah).</p>
<p>Maka, kita perlu membuat standarisasi dalam beribadah. Ada empat kegiatan ubudiyah yang perlu kita lakukan dengan istiqomah (konsisten) dan mudawamah wal istimror (secara berkesinambungan).</p>
<p>Pertama          : Shalat fardhu secara berjamaah di masjid</p>
<p>Kedua             : Shalat sunnah rawatib ba’diyah dan qabliyah</p>
<p>Ketiga             : Membaca al Quran satu juz sehari</p>
<p>Keempat         : Ditambah dengan ibadah bulanan</p>
<p>Muhasabah     : Seminggu sekali</p>
<p>Ibadah harian yang perlu dipertahankan untuk menjaga stamina ritme spiritual. Ibadah wajib kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt (taqarrub). Ibadah sunnah kita lakukan, untuk membangun kecintaan secara timbal balik antara kita dengan Allah Swt. Jika kita sudah dicintai, aktifitas kita merupakan jelmaan dari kehendak-kehendak-Nya.</p>
<p>Supaya kita dekat dengan diri kita sendiri, kita perlu muhasabah usbuiyyah (intropeksi mingguan). Hati kita mengalami gerakan yang tidak berhenti. Dan itu harus selalu dikontrol. Jika kita sudah mencapai kenaikan grafik amal, dan kekurangan kita bisa kita hitung. Berarti kita dalam posisi ideal. Terjaga dari dosa, hanya Rasulullah Saw.</p>
<p>Bangkit Dari Keterpurukan</p>
<p>Jika kita terjatuh melakukan dosa, kita segera bangkit. Setiap langkah menuju dosa harus kita persempit ruangnya. Karena, dosa kecil yang kita remehkan, akan mengajak kepada dosa-dosa kecil berikutnya. Dosa itu beranak pinak, berkembang biak.</p>
<p>Langkah-langkah untuk bangkit, sebagai berikut:</p>
<p>Pertama: Istighfar (memohon ampun kepada Allah Swt). Bukan sekedar memperbanyak istighfar, sekalipun itu berpahala. Yang paling penting adalah dengan istighfar kita selalu menyadari seharusnya makin hari kekurangan, bau tidak sedap dalam diri kita semakin tertutupi (hilang).</p>
<p>Kedua, beramal. Setiap kali melakukan kejahatan, susullah dengan amal saleh. (ittaqillah haitsumaa kunta wa atbi’issayyiata al hasanata tamhuhaa). Kebaikan itu bisa menghapus dosa. Jika kita senang melakukan satu kebaikan, akan mengajak kepada kebaikan berikutnya. Misalnya, jika kita suka ke masjid, maka dengan sendirinya kita akan termotivasi untuk melakukan berbagai amal saleh di situ. Sholat fardhu, sholat sunnah, membaca Al-Quran, zikir dll.</p>
<p>Rasulullah Saw bersabda : “Jika engkau melihat seorang laki-laki terbiasa ke masjid, saksikanlah sesungguhnya ia seorang beriman.” [al Hadits].</p>
<p>Demikian pula jika kita senang melangkahkan kaki menuju ke tempat maksiat, maka akan mengerakkan untuk berbuat dosa berikutnya.</p>
<p>Jika kita sedang bersemangat dalam beribadah, lakukanlah sebanyak mungkin yang Anda mampu. Jika grafik ibadah menurun, minimal pertahankan yang wajib. Hati kita elastis, fluktuatif. Kita memiliki saat maju dan saat mundur. Dengan cara di atas kita bisa mengelola naik turunnya hati kita dengan baik.</p>
<p>Terakhir: Berdoa kepada Allah Saw, semoga kita tetap teguh dalam agama-Nya. Ya muqollibal qulub tsabbit qolbii ‘alaa diinik (Wahai Yang Membolak Balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-MU).</p>
<p>Penutup, wahai para pemuda, ingatlah falsafah pohon pisang. “Janganlah mati sebelum berbuah.” [Abu Hilyatil Auliyah Hadziqoh/www.hidayatullah.com]</p>
<p>Diambil dari Group ORMAS ISLAM (WAHDAH)</p>
<div align="left" style="float:left;padding:5px 5px 0px 0px;"><a name="fb_share" type="button_count" share_url="http://wahdahbandung.org/artikel/wahai-pemuda-jangan-layu-sebelum-berbuah.html"></a></div>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/you-are-never-alone.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: You are never alone'>You are never alone</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/alasan-di-balik-kegagalan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Alasan di balik Kegagalan'>Alasan di balik Kegagalan</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/cukuplah-kematian-sebagai-penasihat-bagimu.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;'>Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahdahbandung.org/artikel/wahai-pemuda-jangan-layu-sebelum-berbuah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebahagiaan Hakiki</title>
		<link>http://wahdahbandung.org/artikel/kebahagiaan-hakiki.html</link>
		<comments>http://wahdahbandung.org/artikel/kebahagiaan-hakiki.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 02:57:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lembaga Muslimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahdahbandung.org/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Kebahagiaan Hakiki
Oleh : Ust. Abu Yahya Purwanto, S.Si
(Ketua Dewan Penasihat DPC Wahdah Islamiyah Bandung)

Alhamdulillah, wasShalaatu wasSalaamu &#8216;alaa RasuulilLaahi amma ba&#8217;du :
Kebahagiaan hakiki diperoleh bila kita :
1. Menjalani hidup dengan taat pada Allah dan RasulNya (Al Qur&#8217;an dan As Sunnah)
Dan barangsiapa yang menta&#8217;ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni&#8217;mat oleh [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/you-are-never-alone.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: You are never alone'>You are never alone</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/alasan-di-balik-kegagalan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Alasan di balik Kegagalan'>Alasan di balik Kegagalan</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/cukuplah-kematian-sebagai-penasihat-bagimu.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;'>Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center">Kebahagiaan Hakiki</p>
<p style="text-align: center">Oleh : Ust. Abu Yahya Purwanto, S.Si</p>
<p style="text-align: center">(Ketua Dewan Penasihat DPC Wahdah Islamiyah Bandung)</p>
<p style="text-align: center">
<p>Alhamdulillah, wasShalaatu wasSalaamu &#8216;alaa RasuulilLaahi amma ba&#8217;du :</p>
<p>Kebahagiaan hakiki diperoleh bila kita :<br />
1. Menjalani hidup dengan taat pada Allah dan RasulNya (Al Qur&#8217;an dan As Sunnah)</p>
<p>Dan barangsiapa yang menta&#8217;ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni&#8217;mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin 314, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)<br />
314. Ialah: orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi ni&#8217;mat sebagaimana yang tsb. pada Al Faatihah ayat 1:7<span id="more-235"></span></p>
<p>Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya&#8221;. (QS. 72:22)<br />
Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. (QS. 72:23)</p>
<p>2. Hidup seimbang yang proporsional, yaitu mengutamakan Akhirat tapi tdk lupa Dunia</p>
<p>Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni&#8217;matan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28:77)</p>
<p>Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan 95 agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi beberapa orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS. 2:143)<br />
95. Umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat.</p>
<p>3. Mendapatkan yg diinginkan dan terlepas dari penderitaan; puncaknya adalah : masuk surga dan selamat dari neraka.</p>
<p>Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. 3:185)</p>
<p>Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 59:20)</p>
<p>Insya Allaah!!!</p>
<p>Allaahumma innaa nas aluka ridhaaka wal jannah, wana&#8217;uudzubika min sakhatika wan naar &#8230; Aamiin.</p>
<div align="left" style="float:left;padding:5px 5px 0px 0px;"><a name="fb_share" type="button_count" share_url="http://wahdahbandung.org/artikel/kebahagiaan-hakiki.html"></a></div>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/you-are-never-alone.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: You are never alone'>You are never alone</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/alasan-di-balik-kegagalan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Alasan di balik Kegagalan'>Alasan di balik Kegagalan</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/cukuplah-kematian-sebagai-penasihat-bagimu.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;'>Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahdahbandung.org/artikel/kebahagiaan-hakiki.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepompong Ide Abu Lahab</title>
		<link>http://wahdahbandung.org/artikel/kepompong-ide-abu-lahab.html</link>
		<comments>http://wahdahbandung.org/artikel/kepompong-ide-abu-lahab.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 00:26:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lembaga Muslimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahdahbandung.org/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan semua penduduk Makkah di bukit Shafa. Beliau bersabda:
“…Wahai Bani Fihr, wahai bani Ady, wahai semua orang Quraisy. Apa pendapat kalian jika sekiranya kukabarkan bahwa di balik bukit ini ada sepasukan berkuda bersenjata lengkap mengepung, siap menyerbu Makkah dan melumatkannya?”
Maka sontak seluruh manusia yang berkumpul pada hari itu [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/you-are-never-alone.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: You are never alone'>You are never alone</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/alasan-di-balik-kegagalan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Alasan di balik Kegagalan'>Alasan di balik Kegagalan</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/cukuplah-kematian-sebagai-penasihat-bagimu.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;'>Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan semua penduduk Makkah di bukit Shafa. Beliau bersabda:</p>
<p>“…Wahai Bani Fihr, wahai bani Ady, wahai semua orang Quraisy. Apa pendapat kalian jika sekiranya kukabarkan bahwa di balik bukit ini ada sepasukan berkuda bersenjata lengkap mengepung, siap menyerbu Makkah dan melumatkannya?”</p>
<p>Maka sontak seluruh manusia yang berkumpul pada hari itu menjawab,</p>
<p>“Sungguh kami belum pernah mendengar ada kedustaan keluar dari lisanmu. Jika engkau berkata seperti itu maka kami akan mempercayainya. Engkau adalah Al Amin.”<span id="more-233"></span></p>
<p>Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tersenyum serta melanjutkan,</p>
<p>“Maka saksikanlah bahwa sesungguhnya aku adalah pembawa peringatan dari sisi Allah sebelum datangnya ‘azab yang besar…”</p>
<p>Maka geger dan gemparlah seluruh manusia yang mendengarkan perkataan tersebut. Banyak diantara mereka yang bertanya-tanya dan banyak pula yang hampir menyatakan kepercayaannya pada Muhammad. Hingga di tengah keributan dan kebingungan manusia itu tampillah seorang laki – laki berkulit putih, bermata juling, dan berpakaian sutera dengan sikap badan menantang maju ke depan, mengacungkan tangannya ke wajah sang Rasul sambil berteriak,<br />
<em>“Tabban laka ya Muhammad ‘asyaral yaumu!!! Alihaadza jama’tana?!!!”</em>, “Celakalah engkau ya Muhammad sepanjang hari ini!!! Apakah untuk urusan seremeh ini kami semua kau kumpulkan?!!”</p>
<p>Saat itulah Allah membalas perkataan lelaki itu langsung dari langit ketujuh,<br />
<em>“Tabbat yadaa Abi Lahaabiw wa Tabb!”</em>, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar – benar binasa!”. Abu Lahab, itulah nama lelaki itu. Sebuah nama yang tetap abadi di dalam Al Quran sebagai simbol penentang da’wah.</p>
<p>Sebuah pelajaran menarik dapat diambil dari kisah asbabun nuzulnya (sebab turunnya) surat Al Lahab di atas, yaitu ketika Abu Lahab berkata, “Apakah untuk urusan seremeh ini kami semua kau kumpulkan?!!” Bagi Abu Lahab urusan kenabian, urusan agama, urusan dunia dan akhirat adalah sesuatu yang remeh dan kecil. Sehingga dia mengecilkan dan sangat menganggap enteng urusan itu.</p>
<p>Padahal di sisi Allah urusan kenabian, urusan keselamatan dunia dan akhirat adalah sesuatu yang besar. Yang karenanya Allah mengutus orang – orang pilihan diantara manusia. Yang karenanya pula Allah turunkan kitab suci. Hanya karena cintaNya pada manusia agar manusia kembali kepada jalan yang lurus. Dan saat itu, sesosok makhluk yang telah diciptakanNya menganggap sangat enteng urusan tersebut.</p>
<p>Ide Abu Lahab ini kemudian tak lekas dimakan rapuhnya usia. Sebagaimana namanya yang Allah abadikan dalam Al Quran, idenya pun tetap lekang hingga kini di zaman modern. Bentuk – bentuk ide Abu Lahab sekarang telah bertransformasi menjadi sesuatu yang baru dengan berbagai variannya. Namun pada intinya satu, yaitu menyepelekan masalah agama, syariat Islam.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah berita tentang pengajuan judicial review terhadap UU Penistaan Agama. Pada saat sidang itu berlangsung, seorang tokoh JIL, si Luthfi Syaukanie (saya sangat tidak rela menyebut akronim “I” nya dengan Islam, lebih baik saya sebut akronim “I” nya itu dengan “Iyang ngaku Islam”^^) meracau bahwa kejahatan Lia Aminuddin itu dapat disamakan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Na’udzubillahi min dzalik!!!. Subhahanallah yang telah memberi kita petunjuk dengan kata-katanya itu,</p>
<p><em>&#8220;Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka. Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.&#8221;</em> (Muhammad : 31-30)</p>
<p>Inilah bentuk transformasi terang – terangan dari ide Abu Lahab 14 abad yang lalu. Sebuah bentuk penyepelean terhadap risalah kerasulan. Jika James Gwee dalam Business Revolution-nya berkata bahwa dalam membandingkan sesuatu itu harus <em>compare apple with apple</em>, maka perkataan tokoh JIL itu sangat tidak akademis dan tidak berdasar. Karena tidak meng-<em>compare apple with apple</em>. Dua variabel yang tak dapat disebandingkan kemudian ia sejajarkan untuk menjadi sebuah landasan dalam judicial review sebuah UU di depan MK. Dan ia masih bangga berkata bahwa dirinya adalah seorang “Cendekiawan” (padahal cendawan) muslim? The fifth grader aja smarter than you!!</p>
<p>Bentuk transformasi sempurna dari kepompong ide Abu Lahab itu sekarang sering diwacanakan dan muncul menjadi sebuah virus SEPILIS di masyarakat. SEPILIS = Sekularis, Pluralis, dan Liberalis. Itulah virus baru yang becikal bakal dari penyepelean risalah kerasulan dan terhadap syariat Islam yang agung. Ketika seseorang menyampaikan kajian keislaman berdasarkan Quran dan Sunnah dengan penafsiran para shahabat, maka merekapun berkata, “Cuma segitu? Use your own opinion to interpret Allah’s words man. That&#8217;s not cool.” Maka mereka pun berpegang pada Sugan dan Ceunah (sepertinya dan katanya) ketimbang pada Quran dan Sunnah.</p>
<p><em>&#8220;Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).&#8221;</em> (Al An&#8217;am : 136)</p>
<p><em>&#8220;Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.&#8221;</em> (Yunus : 36)</p>
<p>Namun bentuk transformasi lain dari ide Abu Lahab ini dapat kita temui dalam bentuk kecil dalam kehidupan sehari-hari. Seperti misalkan mencibir orang yang berusaha mengamalkan sunnah Nabi, mengabaikan dengan tenang peringatan – peringatan yang datang padanya, dan lain sebagainya. Maka semoga Allah melindungi kita dari ide Abu Lahab ini.</p>
<p>Dari catatan Kang Ridha Nugraha</p>
<div align="left" style="float:left;padding:5px 5px 0px 0px;"><a name="fb_share" type="button_count" share_url="http://wahdahbandung.org/artikel/kepompong-ide-abu-lahab.html"></a></div>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/you-are-never-alone.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: You are never alone'>You are never alone</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/alasan-di-balik-kegagalan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Alasan di balik Kegagalan'>Alasan di balik Kegagalan</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/cukuplah-kematian-sebagai-penasihat-bagimu.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;'>Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahdahbandung.org/artikel/kepompong-ide-abu-lahab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Cinta Rasul dan Maulid Nabi</title>
		<link>http://wahdahbandung.org/artikel/antara-cinta-rasul-dan-maulid-nabi.html</link>
		<comments>http://wahdahbandung.org/artikel/antara-cinta-rasul-dan-maulid-nabi.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 23:48:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lembaga Muslimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahdahbandung.org/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[
Cinta terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam merupakan salah satu syarat beriman kepadanya, bahkan kecintaan kepada beliau harus melebihi segala kecintaan pada makhluk lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orangtuanya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/you-are-never-alone.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: You are never alone'>You are never alone</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/alasan-di-balik-kegagalan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Alasan di balik Kegagalan'>Alasan di balik Kegagalan</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/cukuplah-kematian-sebagai-penasihat-bagimu.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;'>Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Cinta terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam merupakan salah satu syarat beriman kepadanya, bahkan kecintaan kepada beliau harus melebihi segala kecintaan pada makhluk lainnya.</p>
</div>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orangtuanya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu menggambarkan kecintaannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, dan  menempatkan posisi cintanya kepada beliau di bawah kecintaannya terhadap dirinya sendiri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menafikan kesempurnaan imannya hingga dia menjadikan cintanya kepada beliau di atas segala-galanya.<br />
Setiap orang berhak untuk mengklaim dirinya sebagai pencinta Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, namun klaim tersebut tidak akan bermanfaat jika tidak dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Klaim cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak dapat diterima dengan sekadar memeringati hari kelahiran beliau. <span id="more-215"></span></p>
<p><strong>Sejarah Peringatan Maulid Nabi</strong></p>
<p>Dalam sejarah pun, motivasi orang-orang yang mula-mula melakukan peringatan maulid nabi (pengikut mazhab Bathiniyyah), bukan didasari rasa cinta kepada beliau, tapi untuk tujuan politis.</p>
<p>Pelopor pertama peringatan maulid nabi adalah Bani Ubaid al-Qaddaah atau yang lebih dikenal dengan al-Fathimiyyun atau Bani Fathimiyyah pada pertengahan  abad ke empat Hijriyah, setelah berhasil memindahkan dinasti Fathimiyah dari Maroko ke Mesir pada tahun 362 H.</p>
<p>Perayaan maulid diadakan untuk menarik simpati masyarakat yang mayoritasnya berada dalam kondisi ekonomi yang sangat terpuruk untuk mendukung kekuasaannya dan masuk ke dalam mazhab bathiniyahnya yang sangat menyimpang dari akidah, bahkan bertentangan dengan Islam.<br />
Pakar sejarah yang bernama Al Maqrizy menjelaskan bahwa begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun.</p>
<p>Beliau menyebutkan kurang lebih 25 perayaan yang rutin dilakukan setiap tahun dalam masa kekuasaannya, termasuk di antaranya adalah peringatan maulid Nabi. Tidak hanya perayaan-perayaan Islam tapi lebih parah lagi, mereka juga mengadakan peringatan hari raya orang-orang Majusi dan Nashrani yaitu hari Nauruz (tahun baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Khomisul ‘Adas (perayaan tiga hari sebelum Paskah).</p>
<p>Kenyataan sejarah peringatan maulid yang tidak ditemukan pada masa Nabi  Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan masa tiga generasi yang disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai generasi terbaik umat ini, menyebabkan banyak di antara ulama yang mengingkarinya dan memasukkannya ke dalam bid&#8217;ah haram.</p>
<p>Tak dipungkiri, di antara ulama ada yang menganggapnya sebagai bid&#8217;ah hasanah, inovasi yang baik, selama tidak dibarengi dengan kemungkaran. Pendapat ini diwakili antara lain oleh Ibnu Hajar al Atsqolani dan as-Suyuti. Keduanya mengatakan bahwa status hukum maulid nabi adalah bid’ah mahmudah (bid’ah terpuji). Tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, tetapi keberadaannya membawa maslahat walaupun juga tidak lepas dari berbagai mudharat.</p>
<p>Keabsahan peringatan maulid nabi bagi mereka disandarkan pada dalil umum yang tidak berhubungan langsung dengan titik permasalahan, sedangkan para ulama yang menentangnya membangun argumen-tasinya melalui pendekatan normatif tekstual yang tidak ditemukan baik secara tersurat maupun secara tersirat dalam al Quran dan juga al hadits, dan diperkuat dengan kaedah umum dalam ibadah yang menuntut adanya dalil spesifik yang menunjang disyariatkannya suatu ibadah.</p>
<p><strong>Hujjah Pendukung Peringatan Maulid</strong></p>
<p>Para pendukung maulid berusaha mencari dalil untuk melegitimasi bolehnya peringatan maulid tersebut, antara lain:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Puasa tersebut adalah ungkapan syukur kepada Allah Azza Wajalla atas keselamatan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pun menyerukan untuk berpuasa pada hari tersebut.</p>
<p>Peringatan maulid nabi, menurut Ibn Hajar dan as-Suyuti merupakan ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam ke muka bumi.</p>
<p>Hujjah ini ditolak oleh ulama lainnya. Mereka menganggapnya sebagai alasan yang dipaksakan, mengingat dasar suatu ibadah adalah adanya dalil yang memerintahkannya dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, bukan pada logika, analogi dan istihsan.</p>
<p>Puasa asyura termasuk sunnah yang telah dipraktikkan dan diserukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, sedangkan peringatan maulid tidak pernah dilakukan apalagi diserukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Sebaliknya, beliau telah mewanti-wanti ummatnya dari kreasi-kreasi bid&#8217;ah, seperti dalam sabdanya, &#8220;Jauhilah amalan yang tidak aku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah sesat.&#8221; (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).</p>
<p>Benar bahwa kita dituntut untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah Subhaanahu Wata’ala, dan nikmat terbesar yang tercurah pada ummat ini adalah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai seorang rasul, bukan saat dilahirkannya. Karenanya, al Qur&#8217;an menyebut pengutusan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai nikmat, &#8220;Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri.&#8221; (QS. Ali Imran: 164).</p>
<p>Ayat ini sama sekali tidak menyinggung kelahiran beliau dan menyebutnya sebagai nikmat. Seandainya peringatan tersebut dibolehkan, seharusnya yang diperingati adalah hari ketika beliau dibangkitkan menjadi nabi, bukan hari kelahirannya. Lagi pula, status Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang mensyariatkan puasa Asyura&#8217; berbeda dengan status umatnya. Beliau adalah musyarri&#8217; (pembuat syariat), adapun umatnya hanya muttabi&#8217; (pengikut), sehingga tak dapat disamakan dan dianalogikan dengan beliau.</p>
<p>Dan sekiranya peringatan maulid merupakan bentuk syukur kepada Allah, tentu tiga generasi terbaik, serta para imam mazhab yang empat tidak ketinggalan untuk melakukan peringatan tersebut, sebab mereka adalah orang-orang yang pandai bersyukur, sangat cinta pada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, dan sangat antusias melakukan berbagai kebaikan.</p>
<p>Hal yang juga mengundang tanya, mengapa ungkapan rasa syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam hanya sekali dalam setahun, 12 Rabi’ul Awwal saja? Bukankah bersyukur kepada Allah, mengagungkan dan mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dituntut setiap saat dengan menaati dan selalu ittiba’ pada sunnahnya?</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Nabi memeringati hari kelahirannya dengan berpuasa</p>
<p>Sebagian beralasan dengan puasa seninnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang merupakan hari kelahirannya. Ketika beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam ditanya mengenai puasa Senin, beliau pun menjawab, “Hari tersebut adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat sebagai Rasul atau pertama kali aku menerima wahyu.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bolehnya memeringati hari kelahirannya.</p>
<p>Alasan ini juga tidak dapat diterima, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak pernah puasa pada tanggal yang diklaim sebagai kelahirannya, 12 Rabi&#8217;ul Awwal. Yang beliau lakukan adalah puasa pada hari Senin. Seharusnya kalau ingin mengenang hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dengan dalil di atas, maka perayaan maulid diadakan tiap pekan, bukan sekali setahun. Selain itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga tidak berpuasa hanya pada hari Senin setiap pekan, tapi juga hari Kamis. Alasan beliau, &#8220;Keseluruhan amalan diperhadapkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis sehingga aku senang amalanku diperhadapkan kepada Allah sedang aku dalam keadaan berpuasa.&#8221; (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).</p>
<p>Sehingga berdalih dengan puasa senin tanpa hari kamis termasuk takalluf dan dibuat-buat. Dan kalau alasan tersebut dapat diterima, mestinya pering-atannya dilakukan dalam bentuk puasa, bukan berfoya-foya dan makan-makan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Peringatan maulid nabi dianggap sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Anggapan ini lahir dari klasifikasi sebahagian ulama terhadap bid&#8217;ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah (jelek) atau dholalah (sesat).</p>
<p>Alasan ini dibantah oleh sebagian ulama bahwa peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak dapat diterima sebagai bid&#8217;ah hasanah, karena dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak dikenal sama sekali adanya bid’ah hasanah. Bahkan yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan diyakini oleh sahabat adalah setiap bid’ah sesat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,  “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim).</p>
<p>Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata,  “Ikutilah (petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat” (HR. ath-Thabrani dan al Haitsami).</p>
<p>Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Al Ibanah al Kubro libni Baththoh, 1/219).</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Peringatan Maulid merupakan salah satu sarana untuk lebih mengenal sosok Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.</p>
<p>Tidak ada perselisihan di kalangan ulama tentang pentingnya mengenal sosok Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Hanya saja, sebagian di antara mereka tidak menerima suatu bid&#8217;ah dipoles menjadi sarana kebaikan, karena tujuan yang baik tidak dapat dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara. Lagi pula, mengenal sosok beliau tidaklah pantas dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup bid’ah. Lebih dari itu, upaya mengenal sosok beliau lewat peringatan maulid merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang merayakan kelahiran Nabi Isa Alaihissalam melalui natalan. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).</p>
<p>Mengenal sosok Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dengan membaca dan mengkaji sirah, biografi dan sunnah beliau seharusnya dilakukan sepanjang waktu, sebagaimana para sahabat mengajarkannya kepada anak-anak mereka setiap waktu.</p>
<p>Seharusnya cinta Nabi dibuktikan dengan meneladani dan mengikuti sunnah-sunnah beliau, bukan dengan menyelisihi perintah atau melakukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya.<br />
Wallahu A’laa wa A’lamu bis-shawab</p>
<p><em>(Diringkas dari risalah Antara Cinta Rasul dan Maulid Nabi. Ustadz Abu Yahya Salahuddin Guntung, Lc.)</em></p>
<p><em>www.wahdah.or.id<br />
</em></p>
<p>﻿</p>
<div align="left" style="float:left;padding:5px 5px 0px 0px;"><a name="fb_share" type="button_count" share_url="http://wahdahbandung.org/artikel/antara-cinta-rasul-dan-maulid-nabi.html"></a></div>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/you-are-never-alone.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: You are never alone'>You are never alone</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/alasan-di-balik-kegagalan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Alasan di balik Kegagalan'>Alasan di balik Kegagalan</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/cukuplah-kematian-sebagai-penasihat-bagimu.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;'>Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahdahbandung.org/artikel/antara-cinta-rasul-dan-maulid-nabi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KARENA SETIAP ORANG MENYIMPAN SETITIK KEBAIKAN DALAM JIWANYA</title>
		<link>http://wahdahbandung.org/artikel/karena-setiap-orang-menyimpan-setitik-kebaikan-dalam-jiwanya.html</link>
		<comments>http://wahdahbandung.org/artikel/karena-setiap-orang-menyimpan-setitik-kebaikan-dalam-jiwanya.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 01:31:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lembaga Muslimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wahdahbandung.org/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ust. Muhammad Ihsan Zainuddin
Tidak semua manusia dipilih oleh Allah untuk kembali ke jalan yang lurus dan mengenal manhaj yang benar. Maka saat Allah menuntun hidup kita untuk berjalan, berbuat, bekerja, berpikir, dan berbicara sesuai dengan manhaj salaf yang shalih; itu berarti ada nikmat yang tak terkira besarnya yang harus kita syukuri. Yah, karena [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/you-are-never-alone.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: You are never alone'>You are never alone</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/alasan-di-balik-kegagalan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Alasan di balik Kegagalan'>Alasan di balik Kegagalan</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/cukuplah-kematian-sebagai-penasihat-bagimu.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;'>Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh : <strong><strong><em>Ust.<strong> Muhammad Ihsan Zainuddin</strong></em></strong></strong></em></p>
<p>Tidak semua manusia dipilih oleh Allah untuk kembali ke jalan yang lurus dan mengenal manhaj yang benar. Maka saat Allah menuntun hidup kita untuk berjalan, berbuat, bekerja, berpikir, dan berbicara sesuai dengan manhaj salaf yang shalih; itu berarti ada nikmat yang tak terkira besarnya yang harus kita syukuri. Yah, karena –sadar atau tidak- sebenarnya kita telah menjadi pilihan-pilihan Allah di bumi. Di saat banyak saudara-saudari muslim kita yang sadar untuk memperjuangkan Islam dengan manhaj apa saja, kita disadarkan oleh Allah bahwa “Generasi akhir ummat ini tidak akan menjadi generasi yang shaleh dan jaya kecuali dengan jalan yang ditempuh oleh generasi awalnya” (<em>La yashluhu akhiru hadzihil ummah illa bima shaluha bihi awwaluha</em>).<span id="more-210"></span></p>
<p>Dampaknya, kita merasakan ke<em>izzah</em>an yang luar biasa dahsyatnya dalam diri kita. Kita bangga berpenampilan sebagai salah seorang <em>ikhwan. </em>Kita merasa mulia saat mewujud sebagai salah satu bagian dari komunitas <em>akhawat. </em>Salahkah? Sampai di sini mungkin tidak ada masalah. Hanya saja seringkali ke<em>izzah</em>an itu melanggar batas-batas yang semestinya. Ke<em>izzah</em>an itu seringkali menyeret kita menjadi merasa shaleh sendiri dan memandang rendah orang lain yang berada di luar komunitas keshalehan kita. Mungkin tidak terungkapkan dengan kata-kata, tapi ia bersembunyi dalam gerakan-gerakan hati kita. Bahkan lebih parah lagi, obsesi keshalehan kita yang begitu tinggi membuat kita memandang orang lain “yang belum shaleh” sebagai makhluk-makhluk yang sudah tidak punya harapan lagi. Kita sering menjadi “buta” tiba-tiba hingga tidak lagi melihat ada celah buat mereka untuk kembali. Kita lupa, bahwa setiap orang sesungguhnya punya setitik kebaikan itu dalam dirinya…</p>
<p>* * *</p>
<p>Izinkanlah saya untuk mengutip kisah yang sungguh-sungguh menggugah saya tentang hal ini. Sebuah kisah yang benar-benar menampar kesombongan kita yang bersembunyi di balik keshalehan lahiriah kita. Kisah ini sendiri adalah kisah nyata seorang ulama Ahlussunnah, Syekh Ahmad bin Abdurrahman Ash-Shuwayyan, yang diungkapnya dalam buku berjudul <em>Fi al-Bina’ al-Da’wy. </em>Kisahnya sebagai berikut…</p>
<p>* * *</p>
<p>Hari itu saya kembali dari sebuah perjalanan yang panjang. Dan di pesawat, Allah menakdirkan saya untuk duduk di samping sekelompok pemuda yang nampaknya senang sekali berfoya-foya dan berhura-hura. Tawa mereka sangat keras. Dan kegaduhan mereka pun semakin lama semakin menjadi-jadi. Kabin pesawat pun dengan cepat menjadi ruangan yang dipenuhi asap rokok mereka. Dan tampaknya sudah menjadi hikmah Allah bahwa pesawat itu benar-benar penuh, hingga tidak memungkinkan bagi saya untuk mencari tempat duduk lain.</p>
<p>Saya berusaha keras untuk lari dari ‘kesempitan’ ini dengan tidur. Tapi, mustahil dan sangat mustahil saya bisa tidur dalam suasana seperti itu. Maka ketika kegaduhan itu semakin membuat kejengkelan saya memuncak, saya pun mengeluarkan mushaf al-Qur’an, lalu membacanya dengan suara yang rendah. Ternyata, tidak lama kemudian sebagian dari anak-anak muda itupun mulai tenang. Sementara sebagian yang lain mulai membaca surat kabar, dan adapula yang mulai tidur dengan lelap.</p>
<p>Namun, tiba-tiba, salah seorang dari mereka berbicara dengan suara keras –dan ia duduk tepat di samping saya!- : “Cukup!…Cukup!”</p>
<p>Saya menduga suara saya terlalu keras hingga mengganggunya. Saya meminta maaf padanya. Saya pun kembali melanjutkan bacaan saya dengan suara yang membisik hingga hanya saya sendirilah yang mendengarnya. Tapi saya lihat ia menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Duduknya gelisah. Tidak pernah diam dan terus bergerak. Hingga ia kemudian mengangkat kepalanya dan berkata dengan penuh emosi: “Tolong! Cukuplah sudah! Cukup! Saya sudah tidak bisa bersabar lagi!”</p>
<p>Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu menghilang selama beberapa lama. Tidak lama kemudian ia kembali lagi, mengucapkan salam kepada saya sembari meminta maaf. Ia terdiam. Dan saya tidak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Tapi sejenak kemudian ia menoleh pada saya, dan matanya basah oleh air mata. Ia berkata sambil berbisik: “Tiga tahun lamanya, bahkan lebih…Aku tak pernah meletakkan keningku di tanah…Aku tak pernah membaca satu ayat pun! Dan…satu bulan penuh ini aku habiskan dalam perjalanan ini…tidak satupun kemaksiatan yang tidak kukerjakan. Hingga aku pun melihatmu membaca al-Qur’an…Tiba-tiba saja dunia menjadi gelap di hadapanku…dadaku sesak…Aku merasa seperti tercekik. Iya, aku merasakan setiap ayat yang engkau baca menhantam tubuhku bagai cambuk..! Aku berkata pada diriku sendiri: Sampai kapan kelalaian ini?! Kemana aku akan berjalan di jalan ini?! Lalu apa setelah semua kelalaian dan kesenangan ini?! Hingga aku pun segera lari ke kamar kecil. Anda tahu kenapa?! Karena aku merasa sangat ingin menangis. Dan aku tidak menemukan tempat sembunyi dari pandangan orang lain selain di tempat itu!!”</p>
<p>Demikian ia berbicara padaku…Aku pun menyampaikan kalimat-kalimat seputar taubat dan kembali pada Allah…Dan ia pun terdiam.</p>
<p>Ketika pesawat mendarat di bumi, pemuda itu menghentikanku. Nampak sekali ia ingin menjauh dari teman-temannya. Ia bertanya padaku, dan wajahnya menampakkan air muka yang sangat serius: “Menurut Anda, apakah Allah masih berkenan menerima taubatku?”</p>
<p>Aku berkata padanya: “Jika engkau jujur dan sungguh-sungguh ingin kembali pada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa apapun.”</p>
<p>“Tapi aku telah melakukan terlalu banyak dosa…dosa-dosa yang begitu besar…,” ujarnya.</p>
<p>“Apakah engkau pernah mendengar firman Allah: <em>“Katakanlah: Wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas atas diri mereka, janganlah kalian putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Mahapengampun lagi Mahapengasih.” </em>(Az-Zumar:53)<em>??” </em>ujarku.</p>
<p>Kulihat wajahnya tersenyum penuh kebahagiaan. Kedua matanya berkaca dipenuhi air mata. Ia lalu mengucapkan selamat tinggal, dan pergi berlalu…</p>
<p>Maha suci Allah yang Mahaagung!</p>
<p>Begitulah manusia. Sejauh dan setinggi apapun kedurhakaan yang telah ia lalui dan daki, tapi selalu saja ada celah kebaikan dalam jiwanya. Andai saja kita dapat berusaha sampai ke sana, lalu menyianginya dengan cinta, ia akan tumbuh dengan izin Allah.</p>
<p>* * *</p>
<p>Membaca kisah ini, membuat kita harus melihat ulang rasa <em>izzah </em>akan ke<em>ikhwan</em>an dan ke<em>akhawat</em>an kita. Karena saat <em>izzah </em>itu menjelma menjadi kesombongan, ia tidak lagi perlu dibanggakan. Kebanggaan semacam itu hanya membuat kita meremehkan manusia lain, yang boleh jadi saat hidayah Allah bersemayam di hatinya, ia akan menjejakkan kakinya di surga terlebih dulu dibanding kita. “<em>Izzah” </em>seperti itu hanya akan menyebabkan kita menjadi penghalang manusia untuk meraih hidayah Allah. <em>Wallahul musta’an.</em></p>
<p><strong><em><br />
<strong> </strong></em></strong></p>
<div align="left" style="float:left;padding:5px 5px 0px 0px;"><a name="fb_share" type="button_count" share_url="http://wahdahbandung.org/artikel/karena-setiap-orang-menyimpan-setitik-kebaikan-dalam-jiwanya.html"></a></div>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/you-are-never-alone.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: You are never alone'>You are never alone</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/alasan-di-balik-kegagalan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Alasan di balik Kegagalan'>Alasan di balik Kegagalan</a></li>
<li><a href='http://wahdahbandung.org/artikel/cukuplah-kematian-sebagai-penasihat-bagimu.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;'>Cukuplah Kematian sebagai Penasihat Bagimu&#8230;</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wahdahbandung.org/artikel/karena-setiap-orang-menyimpan-setitik-kebaikan-dalam-jiwanya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
