Archive for the ‘Artikel’ Category
Pada bulan Februari, kita selalu menyaksikan media massa, mal-mal, pusat-pusat hiburan bersibuk-ria berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine’s Day. Biasanya mereka saling mengucapkan “selamat hari Valentine”, berkirim kartu dan bunga, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta karena anggapan saat itu adalah “hari kasih sayang”. Benarkah demikian?
SEJARAH VALENTINE’S DAY
The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day :
“Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine’s Day probably came from a combination of all three of those sources–plus the belief that spring is a time for lovers.” Read the rest of this entry »
Konon, Muammar Khadafi ketika memimpin negaranya hasil kudeta, dia telah berniat sunguh-sungguh tentang hal ini sejak usia remaja. Negara Jepang maju pesat setelah para pemudanya memecut diri dengan kemandirian dan kreatifitas yang luar biasa, sejak Restorasi Meiji dengan sosok Kaisar yang juga masih muda belia. Malaysia yang dulunya berguru dari Indonesia , kini terlihat lebih maju setelah para pemuda yang dulunya berguru ke luar negeri, pulang. Lalu bagaimanakah dengan agama Islam yang kita anut?
Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata: “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru adanya Illah selain Dia.” (Al Kahfi: 13 & 14). Sesungguhnya Allah benar-benar kagum terhadap anak muda yang tidak memiliki kecenderungan terhadap hal-hal yang negatif yang mampu ia lakukan. (HR Ahmad dalam Musnadnya 4/158)
Lihatlah pemuda-pemuda (juga pemudi) Islam terbaik sepanjang zaman ini:
AZ ZUBEIR BIN AWWAM, teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, juga pemimpin dakwah Islam di zamannya. Umurnya waktu itu adalah 15 tahun. Read the rest of this entry »
Ikhtilath artinya bercampur~baur. Yang dimaksud di sini adalah bercampur-baurnya antara dua jenis kelamin; laki-laki dan perempuan yang bukan mahram di satu tempat tanpa mengindahkan adab-adab syar’i.
Dalam dunia pendidikan sekuler di negeri kita saat ini, hal itu sudah merupakan pemandangan yang lazim. Dalam satu kelas terdapat murid laki-laki dan perempuan. Justeru yang dirasakan aneh adalah apabila antara kedua jenis kelamin itu terpisah dalam ruang belajar masing-masing. Sistem pemisahan ini jarang ada, kecuali di lembaga-lembaga pendidikan yang menerapkan sistem pendidikan Islami.
Padahal, syariat kita melarang terjadinya Ikhtilath tersebut. Banyak sekali dalil yang mengindikasikan hal itu. Bila dalil-dalil itu sudah jelas, valid dan dapat dipertanggung-jawabkan, maka sikap seorang Muslim yang pertama-tama hanyalah Sam’an wa Thaa’atan (menerima dengan ketundukkan), terlepas apakah di balik itu ada rahasia (hikmah) ataukah tidak.! Read the rest of this entry »
Bila waktu tidak digunakan dengan baik maka akan terbuang untuk perkara yang sia-sia. Semua orang merasakan hal itu. Maka jika seseorang tidak mengisi waktunya dengan kebaikan, ia akan menghabiskan waktunya untuk kejelekan. Orang yang tidak mengambil faedah dari waktu mereka, menyia-nyiakannya untuk perkara yang merugikan, maka waktunya itu akan menjadi padang rumput bagi syetan-syetan yang senantiasa membolak-balikkannya dalam kesesatan. Na’udzubillah.
Orang-orang yang sadar akan cepatnya waktu berlalu, mereka adalah orang-orang yang mendapatkan taufik dari Allah sehingga waktu mereka benar-benar bermanfaat. Dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA bahwasanya dia berkata: “Tidaklah aku menyesali sesuatu, seperti penyesalanku atas suatu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari, semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.”
Maka perlu Anda ketahui beberapa hal wahai ukhti muslimah tentang bagaimana memanfaatkan waktumu: Read the rest of this entry »
Tidak sedikit anggota yang berada dalam sebuah lembaga dakwah keberadaanya tidak menambah dan tidak mengurangi. Ini barangkali ungkapan halus dari keberadaan anggota yang hanya sebatas catatan administrasi belaka bahkan tidak jarang hanya ‘membebani’ lembaga.
Salah satu kualifikasi yang diinginkan dari kader tarbiyah adalah lahirnya kader yang muta’awin. Apa yang kita maksud dengan kader muta’awin? Kader muta’awin yaitu kader yang siap terlibat dalam kerja-kerja dakwah.
Persoalan ini mendesak selalu ditekankan karena tidak sedikit dari kader-kader dakwah yang namanya hanya tertulis sebagai anggota atau merasa cukup dengan berafiliasi dengan sebuah lembaga dakwah tanpa mau terlibat lebih jauh atau bahkan berkonstribusi dalam kerja dakwah perjuangan. Ini masalah besar bagi harakah dakwah. Jika ini terjadi jelas indikasi tidak tercapainya secara maksimal tujuan-tujuan pengkaderan.
Karena itu murabbi sangat berperan dalam mendongkrak seorang kader yang ‘biasa-biasa saja’ menjadi kader yang ‘luar biasa’. Pembaca budiman, rubrik tarbawiyat edisi kali ini mencoba mengangkat masalah ini sekaligus memberikan kiat-kiatnya. Selamat mengikuti.
1. Menyadari Pentingnya Amal Jama’i




